Sahabat baru dalam perjalanan | etnikbali.com

Analisa Wisatawan Nusantara yang Berkunjung ke Bali

Wisatawan nusantara (wisnus) yang berkunjung ke Bali menurut analisa "Buku Pasar Wisatawan Nusantara 2015" dalam database dinas pariwisata Bali disebutkan yaitu sebagai berikut :

Dari keseluruhan penumpang yang meninggalkan Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk, Padangbai, dan Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai, diketahui bahwa 66,2% diantaranya tergolong wisatawan nusantara (wisnus).
  • Jumlah wisnus berjenis kelamin laki-laki yang berkunjung ke Bali sedikit lebih banyak dari wisnus berjenis kelamin perempuan, yakni 54,3% (laki-laki) dan 45,7% (perempuan). 
  • Wisnus yang berkunjung ke Bali didominasi oleh golongan usia 26-55 tahun, yakni mencapai 60,8%, menyusul kemudian kelompok usia 16-25 sebesar 31,2%; kelompok usia 56 tahun ke atas sebesar 6,0%, dan kelompok usia di bawah 15 tahun sebesar 2,0%.
  • Pulau Jawa merupakan pasar wisnus potensial bagi pariwisata Bali. Hal ini ditunjukkan oleh wisnus yang berkunjung ke Bali didominasi oleh wisnus yang berasal dari lima provinsi yang ada di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur (35,0%), disusul DKI Jakarta (17,1%), Jawa Tengah (11,4%), Jawa Barat (11,2%), dan Yogyakarta (5,5%). Sedangkan wisnus yang berasal dari provinsi luar Jawa adalah NTB/NTT (11,1), Sumatera (4,3%), Kalimantan (1,8%), Sulawesi (1,6%), dan sejumlah daerah lainnya sebesar 1,0%.
  • Berdasarkan status pekerjaannya. persentase tertinggi wisnus yang berkunjung ke Bali dicapai oleh golongan pegawai swasta (34,2%), disusul pelajar/mahasiswa (23,2%), wirausaha (14,9%), PNS (7,8%), profesional (7,0%), dan TNI/POLRI (0,5%). Selain itu juga terdapat kelompok wisnus dengan status pekerjaan lainnya mencapai 12,4%.
  • Wisnus yang berkunjung ke Bali didominasi oleh mereka yang menempuh jalur darat (59,6%), disusul jalur udara (39,7%), sementara kelompok wisnus yang menempuh jalur laut relatif rendah (0,7%). 
  • Moda transportasi yang paling banyak digunakan selama melakukan kunjungan di Bali adalah mobil sewaan (39,2%), disusul mobil pribadi (32,9%), sepeda motor (18,1%), dan kendaraan umum (9,8%).
  • Berdasarkan periodisitas kunjungan, persentase tertinggi wisnus yang mengunjungi Bali adalah wisnus yang melakukan kunjungan ulang 2 hingga 5 kali, yakni mencapai 39,0%. Selanjutnya disusul wisnus yang melakukan kunjungan ulang lebih dari 5 kali (25,6%), wisnus yang baru melakukan kunjungan untuk pertama kalinya (22,4%), dan wisnus yang melakukan kunjungan reguler tiap bulan/tahun (13,0%).
  • Hampir sebagian (47,4%) wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan tujuan kunjungannya ke Bali adalah untuk berlibur atau rekreasi, disusul mengunjungi teman/famili mencapai 22,5%, tujuan tugas kantor/perusahaan mencapai 14,5%, tujuan bisnis mencapai 5,6%, tujuan konferensi, seminar, rapat mencapai 2,4%, dan untuk sejumlah tujuan lainnya mencapai 7,6%.
  • Terkait dengan tipologi perjalanan selama melakukan kunjungan wisata di Bali, jumlah wisnus yang tidak menggunakan paket tour menunjukkan persentase jauh lebih tinggi (81,4%) dibandingkan dengan wisnus yang menggunakan paket tour (18,6%).
  • Dalam melakukan kunjungan wisata ke Bali (44,7%) wisnus melakukan kunjungan disertai teman, menyusul kemudian mereka yang melakukan kunjungan dengan keluarga (31,3%), dan melakukan kunjungan sendiri (23,8%). Di samping itu juga terdapat 0,2% yang melakukan kunjungan ke Bali ditemani pihak-pihak lainnya, seperti dengan majikan atau pembantu rumah-tangga, dengan pimpinan atau staf, dan dengan partner bisnis.
  • Berdasarkan jenis sumber informasi, diketahui bahwa :
    • 58,7% wisnus yang mengunjungi Bali memperoleh informasi dari teman/relasi (words of mouth). 
    • Menyusul kemudian 32,9% memperoleh informasi dari media elektronik, 
    • 4,7% dari media cetak, dan 3,2% dari agen perjalanan. 
    • Di samping itu juga terdapat 0,5% wisnus yang memperoleh informasi dari sumber-sumber lainnya.
  • Berdasarkan daya tarik utama untuk berkunjung ke Bali, persentase tertinggi ditunjukkan oleh kelompok wisnus yang menyatakan ketertarikannya pada keindahan alam (48,3%). Menyusul kemudian kelompok wisnus yang menyatakan ketertarikannya pada keunikan budaya (40,0%), atraksi wisata yang beragam (3,9%), keramah-tamahan penduduk (3,7%), fasilitas pariwisata yang berkualitas (2,8%), harga/biaya berlibur yang relatif murah (1,1%), dan sejumlah daya tarik lainnya (0,2%).
  • Dari berbagai jenis daya tarik wisata alam yang ada di Bali, 
    • Lebih dari separoh (56,5%) wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan lebih berminat pada pantai/laut, 
    • Disusul pegunungan (16,1%), 
    • Persawahan (8,7%), 
    • Danau (7,6%), 
    • dan perkebunan (4,7%), 
    • Sedangkan sejumlah daya tarik lainnya (6,4%).
  • Daya tarik wisata budaya yang paling diminati oleh wisnus yang mengunjungi Bali adalah  :
    • Tradisi/adat-istiadat (27,9%), 
    • Menyusul kesenian daerah (25,4%), 
    • Arsitektur (14,9%), 
    • Barang-barang kerajinan (11,5%), 
    • dan makanan khas (kuliner) (10,5%). 
    • Sementara sejumlah daya tarik lainnya (9,8%).
  • Komparasi antara daya tarik wisata alam dan budaya Bali menunjukkan bahwa lebih dari separoh (51,5%) wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan daya tarik alam dan budaya Bali sama-sama menarik, menyusul kemudian wisnus yang menyatakan alam lebih menarik berjumlah 32,8%, sedangkan wisnus yang menyatakan budaya lebih menarik sebanyak 15,7%.
  • Selama berwisata di Bali, jenis kegiatan/atraksi wisata yang paling banyak dilakukan oleh wisnus adalah sight seeing (melihat-lihat) mencapai 46,4%, menyusul kemudiaan shopping (berbelanja) mencapai 35,0%, adventure (trekking, rafting, surfing, dsb.) sebanyak 3,0%, religius/spiritual (2,6%), night life (1,5%), wellness (kebugaran) sebanyak 0,5%, dan sejumlah kegiatan/atraksi wisata lainnya (11,0)%.
  • Dari seluruh daya tarik wisata yang ada di Bali, 
    • Kuta merupakan daya tarik wisata yang paling populer bagi wisnus. 
    • Bila dilihat berdasarkan sebaran wilayahnya, daya tarik wisata yang paling diminati didominasi oleh daya tarik wisata yang ada di wilayah Bali Selatan.
  • Berdasarkan lama tinggal di Bali, persentase tertinggi wisnus yang mengunjungi Bali adalah mereka yang memiliki lama tinggal 2 malam (3 hari), yakni sebanyak 26,7%, menyusul kemudian 3 malam (4 hari) sebanyak 22,7%, 1 malam (2 hari) sebanyak 14,7%, 4 malam (5 hari) sebanyak 11,6%, lebih dari 6 malam (> 7 hari) sebanyak 9,1%, kurang dari 1 malam (1 hari) sebanyak 8,0%, 5 malam (6 hari) sebanyak 4,7%, dan 6 malam (7 hari) sebanyak 2,5%,.
  • Dari berbagai jenis pilihan akomodasi yang tersedia di Bali, ternyata hotel bintang menempati persentase tertinggi, yakni digunakan oleh 35,1% wisnus selama berkunjung di Bali. Menyusul kemudian rumah keluarga/teman (34,9%), hotel melati (13,6%), villa (1,3%), pondok wisata (0,6%), dan 7,6% menginap di beberapa tempat lainnya seperti perkemahan (camping ground), perumahan/mess kantor, mushola/masjid, dan rumah sakit. Selain itu, juga terdapat wisnus yang tidak menginap (6,9%).
  • Penggunaan fasilitas akomodasi di kalangan wisnus yang berkunjung ke Bali didominasi oleh mereka yang menghuni 1 kamar untuk 2 orang (2 orang perkamar), yakni mencapai 47,3%, menyusul kemudian 3 orang perkamar (20,9%), lebih dari 3 orang perkamar (19,6%), dan seorang perkamar (12,2%).
  • Berdasarkan alokasi pengeluaran biaya selama melakukan kunjungan wisata di Bali, ternyata pengeluaran untuk konsumsi menduduki peringkat tertinggi (32,9%). Menyusul kemudian pengeluaran untuk souvenir (26,6%), akomodasi (21,9%), dan transportasi lokal (15,0%), dan sejumlah jenis pengeluaran lainnya (3,6%). 
  • Berdasarkan jumlah pengeluaran rata-rata perhari, diketahui bahwa wisnus yang mengunjungi Bali dengan pengeluaran di atas Rp. 1.000.000 menempati posisi teratas, yakni mencapai 27,3%. Berikutnya adalah kelompok wisnus dengan pengeluaran rata-rata perhari Rp. 200.000 – Rp. 400.000 (17,1%), di bawah Rp.200.000 (16,0%), Rp. 401.000 – Rp. 600.000 (14,8%), Rp. 601.000 – Rp. 800.000 (14,2%), dan Rp. 801.000 – Rp. 1.000.000 (10,6%). Dari seluruh pengeluaran wisnus selama berwisata di Bali, pengeluaran rata-rata perhari mencapai Rp.520.000.
  • Berdasarkan kesannya tentang keramah-tamahan orang Bali, sebagian besar (98,5%) wisnus yang berkunjung ke Bali menyatakan kesan positif dengan rincian 81,6% menyatakan ramah, 12,5% menyatakan sangat ramah, dan 4,4% menyatakan cukup ramah. Sebaliknya wisnus yang menyatakan kesan negatif tentang keramahtamahan orang Bali berjumlah 1,5% yakni menyatakan kesan kurang ramah.
  • Berdasarkan kesannya tentang kebersihan lingkungan di Bali, diketahui bahwa 95,3% wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan kesan positif, dengan rincian 68,7% menyatakan bersih, 20,4% menyatakan cukup bersih, dan 6,2% menyatakan sangat bersih. Sebaliknya, wisnus yang menyatakan kesan negatif terhadap kebersihan lingkungan di Bali berjumlah 4,7%, yakni menyatakan kurang bersih.
  • Berdasarkan kesannya tentang kondisi keamanan di Bali, diketahui bahwa pada umumnya (99,2%) wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan kesan positif, dengan rincian 78,7% menyatakan aman, 13,3% menyatakan cukup aman, dan 7,2% menyatakan sangat aman. Sebaliknya, wisnus yang menyatakan kesan negatif terhadap kondisi keamanan di Bali berjumlah 0,8%, yakni menyatakan kurang aman. 
  • Persentase wisnus yang mengunjungi Bali berdasarkan tingkat kepuasannya terhadap daya tarik wisata di Bali menunjukkan bahwa 82,2% menyatakan puas, menyusul kemudian 11,0% menyatakan sangat puas, dan 5,7% menyatakan cukup puas. Sebaliknya mereka yang menyatakan kurang puas hanya 1,1%, dan tidak ada yang menyatakan sangat kurang puas. 
  • Pulau Bali tampaknya masih menjadi destinasi wisata favorit di kalangan wisnus. Hal ini ditunjukkan oleh sebagian besar (92,2%) wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan keinginannya untuk melakukan kunjungan ulang ke Bali. Hanya 7,2% yang menyatakan ragu-ragu, dan hanya 0,6% yang menyatakan tidak berkeinginan melakukan kunjungan ulang ke Bali. 
Saran/Rekomendasi

Berdasarkan analisis data hasil penelitian survei terhadap wisnus yang meninggalkan Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk, Padangbai dan Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai pada tahun 2015, maka berikut ini disampaikan beberapa saran/rekomendasi sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengembangan kepariwisataan di provinsi Bali.
  • Berdasarkan daerah asalnya, wisnus yang berkunjung ke Bali masih didominasi oleh wisnus yang berasal dari Pulau Jawa. Oleh sebab itu promosi luar Pulau Jawa perlu ditingkatkan.
  • Berdasarkan moda transportasi yang paling banyak digunakan wisnus selama melakukan kunjungan di Bali, diketahui bahwa lebih dari sepertiga dari mereka menggunakan mobil sewaan. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya-upaya untuk menjaga bahkan meningkatkan fasilitas dan kualitas layanan usaha angkutan wisata di antaranya melalui standarisasi dan uji sertifikasi usaha angkutan wisata.
  • Keindahan alam dan keunikan budaya Bali merupakan jenis daya tarik wisata yang paling banya diminati oleh wisnus yang berkunjung ke Bali. Atas dasar itu, maka konsep pengembangan pariwisata berwawasan budaya dan lingkungan kiranya masih sangat relevan untuk dijadikan acuan bagi pengembangan kepariwisataan di Bali.
  • Dari berbagai jenis daya tarik wisata alam yang ada di Bali, lebih dari separoh wisnus yang mengunjungi Bali menyatakan lebih berminat pada pantai/laut, disusul pegunungan danau, dan persawahan. Atas dasar itu, maka kebijakan pengembangan pariwisata Bali ke depan hendaknya lebih diarahkan pada upaya-upaya konservasi dan penataan lingkungan pantai/laut, pegunungan, danau, dan persawahan.
  • Dari berbagai jenis daya tarik wisata budaya yang ada di Bali, ternyata tradisi/adat-istiadat dan kesenian daerah merupakan daya tarik yang paling banyak diminati. Atas dasar itu, maka kebijakan pengembangan pariwisata Bali ke depan hendaknya lebih diarahkan pada upaya-upaya revitalisasi kesenian dan tradisi/adat-istiadat lokal. Hal ini dianggap penting tidak hanya untuk kepentingan pariwisata semata, melainkan juga sebagai upaya meningkatkan ketahanan identitas kultural di tengah ancaman globalisasi yang kian meningkat.
  • Bila dilihat berdasarkan sebaran wilayahnya, daya tarik wisata yang paling diminati didominasi oleh daya tarik wisata yang ada di wilayah Bali Selatan. Berdasarkan kenyataan ini kiranya perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan daya saing daya tarik wisata yang ada di wilayah Bali lainnya.
  • Minat wisnus untuk membeli berbagai jenis souvenir ternyata relatif tinggi, terbukti dengan alokasi pengeluaran biaya selama melakukan kunjungan wisata di Bali didominasi pengeluaran untuk konsumsi dan belanja souvenir. Atas dasar itu, maka kebijakan pengembangan pariwisata Bali ke depan lebih diarahkan antara lain pada upaya-upaya peningkatan kualitas usaha restoran atau rumah makan, diversifikasi souvenir dan pemberdayaan bagi kelompok pengerajin.
- EtnikBali.Com -